Cara Mudah Menghadapi Situasi (Peserta) Sulit Saat Presentasi


"TIDAK ADA NODA TIDAK BELAJAR"

Tidak ada seorang pun yang ingin menghadapi kondisi atau situasi yang menyulitkan diri sendiri. Kondisi ini merupakan kondisi umum yang dirasakan oleh semua orang, termasuk anda, benar, kan. Siapa yang senang berada dalam situasi sulit? tidak ada. Semua orang, termasuk anda, tentunya ingin berada dalam situasi yang aman dan nyaman, bukan situasi yang sulit. Hanya saja, kondisi tersebut memang hanya impian belaka karena tidak ada yang namanya kehidupan apabila tidak ada kesulitan. Seperti tagline di atas, "tidak ada noda tidak belajar", kata salah satu iklan yang beredar di masyarakat atau tanpa adanya kesulitan dalam hidup, proses pembelajaran belum sempurna. Oleh karena itu, sebagai orang yang masih hidup, kita tidak dapat menghindari kesulitan, termasuk pada saat akan melakukan presentasi. Namun, bukan berarti tidak ada cara untuk mengatasi kesulitan dalam presentasi. Tulisan ini akan membahas itu semua.

Berawal dari diri sendiri dan juga peserta.

Bagian kesulitan yang berasal dari dalam diri sendiri, sudah saya bahas di bab sebelumnya. bab ini khusus membahas kesulitan - kesulitan yang akan terjadi saat melibatkan peserta kegiatan. Awalnya kita sebagai trainer, musti memahami apa saja yang membuat seseorang mau datang ke tempat kita untuk mendengarkan dan melihat kita presentasi. Ada beberapa tipe peserta yang akan datang ke tempat kita. Peserta datang karena (a) keinginan diri sendiri; (b) diajak teman; (c) diperintahkan oleh kantor dan yang saat ini banyak terjadi adalah (d) untuk memenuhi SKPI (Surat Keterangan Pendamping Ijasah) atau yang paling parah adalah tipe yang datang karena ingin (e) adu ilmu sama kita sebagai trainer.

Keinginan diri sendiri. Apabila kita berhadapan dengan peserta yang datang karena keinginan itu muncul dari dalam diri mereka sendiri, akan lebih mudah dan menyenangkan karena memang peserta itu sudah punya niat untuk belajar sesuatu dari kita, walaupun ada juga yang ikut karena ingin bertemu kita. Namun, apapun alasan pribadinya, ia sudah datang karena keinginan dari dalam diri sehingga mereka lebih kooperatif saat acara berlangsung. Diajak teman. Untuk tipe ini, mereka akan cenderung menjaga perasaan teman yang mengajak dan percaya kepada teman mereka sehingga mereka akan mendengarkan presentasi kita (tapi bisa juga tidak, namun tidak akan membuat suasana menjadi runyam, kecuali yang mengajak memulai membuat suasana menjadi runyam terlebih dahulu). Diperintahkan kantor. Tipe ini adalah tipe peserta yang akan memiliki kemungkinan untuk menimbulkan kesulitan saat kita melakukan presentasi karena mereka datang karena kondisi yang sebenarnya tidak menyenangkan juga untuk mereka. Mungkin mereka sudah memiliki rencana tertentu tetapi diperintahkan untuk mengikuti acara kita dan tentunya mereka diwajibkan membuat laporan acara. Mengejar SKPI. Ini adalah kondisi terkini bagi para mahasiswa. Mereka memiliki kewajiban untuk mengumpulkan sertifikat - sertifikat dari berbagai seminar sebagai syarat kelulusan, sehingga mereka akan cenderung (1) mencari seminar yang sesuai minat mereka (biasanya sekalian untuk bahan pembuatan skripsi) atau (2) asal seminar asalkan memenuhi syarat minimal SKPI. Oleh karena itu, mereka akan menjadi tipe yang (kemungkinan) tidak terlalu banyak berinteraksi saat kegiatan berlangsung.Adu ilmu. Nah, ini dia. Tipe peserta yang seperti ini akan memiliki kemungkinan tinggi untuk membuat kita sebagai trainer berada pada posisi sulit, namun bukan berarti tidak ada cara untuk mengatasi tipe ini. Jadi, apapun alasan yang menyebabkan mereka hadir ke acara kita, mereka tetaplah peserta kegiatan yang pada saat mereka pulang, mereka membawa sesuatu dari kegiatan yang kita selenggarakan, benar, kan. Kalau kita mau simpulkan dari ke 5 tipe tersebut, maka sebenarnya dapat dilihat dari 3 alasan utama kehadiran mereka, yaitu (a) emosional (Keinginan sendiri dan diajak teman); (b) pikiran peserta (adu ilmu) dan (c) Situasional (disutuh kantor dan SKPI).

Tipe/Model peserta.

Apabila kita sudah membahas alasan yang membuat seseorang menjadi peserta, maka kita dapat melihat lagi bahwa ada 9 tipe / model peserta dalam kegiatan kita, yaitu:

(a) Eager Beaver; adalah tipe peserta yang memiliki antusias tinggi dalam melakukan sesuatu. Ia akan berupaya menjadi yang terbaik dan yang pertama dalam melakukan segala sesuatu. Namun ia akan menyebabkan kesulitan bagi peserta lain yang juga ingin bertanya. Oleh karena ia memiliki semangat yang baik untuk belajar, sebaiknya kita tidak menjatuhkan semangat atau mentalnya. Kontribusi atau masukannya kita hargai dan ajak yang lain untuk juga turut berpartisipasi. "Terima kasih pak/bu atas masukannya dan mari yang lain siapa lagi, semua pasti punya pandangan hebat dan mau diungkapkan"

(b) Negative; Tidak ada yang benar dari pengajar maupun materi yang diajarkan. Semua salah dan negatif. Ia akan resisten terhadap keseluruhan kegiatan seperti orang yang sebenarnya tidak mau mengikuti acara. Pada dasarnya tidak ada orang yang ingin menjadi orang yang negative, benar kan. Orang akan menjadi negative pasti ada sebab atau dasarnya. Oleh karena itu, coba cari tahu apa yang mendasari orang tersebut menjadi negative. Ajak (tawarkan ) diskusi setelah sesi (jangan saat sesi, nanti akan menghabiskan waktu dan merugikan yang lain).

(c) Complainer. Apa sih yang benar di mata orang ini? tidak ada yang benar dan semua selalu salah. Apapun dapat dibahas dan menjadi kesalahan bagi orang tipe ini. Mereka akan terus mencari kesalahan namun tidak memberikan solusi. Mereka tidak memandang negatif materi yang dibawakan, hanya saja selalu menemukan kesalahan. Umumnya mereka akan berkata "Setuju, tapi .... " Nah kalau sudah ada tapi, artinya tidak setuju kan. Oleh karena itu, kita jangan sampai terjebak dengan menjawab "tapi" yang ia kemukakan dan coba cari alternatif kemungkinan jawaban dan tetaplah fokus terhadap materi yang kita bawakan dan maju terus (lanjutkan materi)

(d) Expert. Keinginan untuk mendapatkan panggung dari panggung orang lain adalah kata yang tepat untuk peserta tipe ini. Ia akan menunjukan kepiawaian, keahliannya dalam bidang yang sama seperti kita bawakan dan ingin seluruh peserta mengakui keberadaanya. Untuk mengatasi orang tipe ini JANGAN DILAWAN. Mendebat orang ini hanya akan memperlihatkan betapa rendahnya kita sebagai trainer. Akui kepakaran dia (biar senang), berikan panggung (sebentar saja ya) dan jadikan dia sekutu untuk membantu kita saat ada pertanyaan dari peserta yang sulit kita jawab (hahahahaha... sama - sama senang kan)

(e) Poor Loser. Sudah salah tapi tidak mau mengaku... Nah, ini dia tipe pesertanya. Kemungkinan dia bertanya sesuatu atau beragumentasi namun salah dan dia tetap tidak mau mengaku salah. Untuk mengatasi orang tipe ini, JANGAN menyudutkan mereka, jangan membuat mereka malu namun kita dapat menyepakati untuk tidak sepakat dengan orang tersebut. Umumnya kita dapat mengatakan "Jadi Bapak/Ibu beranggapan bahwa XYZ sebenarnya begitu yang NAMUN YANG LEBIH MENARIK adalah ........" tekankan pada kalimat selanjutnya maka tanpa disadari kita sudah mengarahkan ke jawaban yang benar tanpa membuat malu si poor loser itu.

(f) Rambler. Senang berbicara panjang lebar tanpa arah yang jelas, alias suka ngomong ngalor ngidul kaga karuan. Tipe inilah orang hambler. Jadi sebelum bertanya, dia akan bercerita ke A, B, C dan banyak lagi yang lain sebelum akhirnya selesai tanpa ada kejelasan apa yang ingin ditanyakan. Cara mengatasi orang seperti ini adalah, pada saat ada kesempatan memotong pembicaraanya (biasanya saat dia ambil nafas), potong pembicaraanya, intisarikan dan jangan berikan lagi dia waktu untuk melanjutkan pembicaraan karena nanti bisa - bisa dia yang jadi pengisi acara kita.

(g) Side conversations. Ini adalah tipe peserta yang suka ngobrol dengan teman disampingnya saat kita sedang memberikan materi. Mereka akan ngomong dengan suara perlahan hingga akhirnya suara mereka menjadi cukup keras dan membuat peserta lain mengucapkan (sssttttss). Lalu bagaimana cara mengatasi orang - orang seperti ini? Ada beberapa cara yang dapat dilakukan, mulai dari menatap mata kedua orang tersebut, hentikan pembicaraan kita sehingga suasana menjadi hening dan semua mata menoleh kepada mereka dan kita ajukan pertanyaan "Sepertinya ada yang ingin ditanyakan...." atau kalau cara saya, "Saya akan berjalan ke arah mereka dan saya akan berhenti di depan mereka dan tetap berbicara dengan sesekali tersenyum dan melihat mereka"

(H) Dominator. Peserta dengan tipe ini adalah peserta yang ingin menguasai dan mengontrol jalannya kelas. ia mungkin saja bukan ahli di bidang yang kita sampaikan, namun ia ingin diakui dan memonopoli kelas yang kita bawakan Terkadang bisa menggunakan humor, "Semua boleh bertanya, kecuali bapak/Ibu XXX, karena nanti beliau sudah mendapatkan hadiah cantik..." atau "Senang sekali bapak/Ibu XXX kembali bertanya, namun ijinkan saya mengajak peserta yang belum sempat bertanya terlebih dulu ya ... "

(i) Hecklers. Ini adalah tipe peserta yang datang ke acara kita namun tidak mau melakukan berpartisipasi sama sekali dan cenderung akan menolak instruksi yang diberikan dengan berbagai alasan yang dikemukakan. Untuk tipe ini, hindari untuk melawan atau memperhatikan tipe ini karena perhatian anda menjadi kekuatan bagi mereka untuk semakin mengacau. Lebih baik tidak ditanggapi namun minta ia untuk memperkenalkan diri dan biasanya mereka akan menjadi orang tanpa nama.

Cara Mengatasi

Sebenarnya mudah saja untuk mengatasi itu semua (ada caranya kan di atas). Namun, sebelum mengatasi keluar diri, kita sebagai trainer sebaiknya memiliki prinsip 3D terlebih dahulu. Apa itu 3D? 3D adalah (a) Depersonalization. Namun, jangan sampai salah berpikir ya. Depersonalization bukan berarti mengalami gangguan mental karena dalam hal ini yang dimaksudkan adalah kita sebagai trainer, berbeda dengan kita sebagai pribadi. Sehingga yang terjadi adalah satu kondisi antara trainer dan peserta, bukan masalah saya pribadi dengan pribadi peserta; (b) Detach. Sebagai trainer, kita perlu memisahkan hubungan diri kita dengan peserta dengan tujuan yang lebih jauh. Sehingga kita tidak menjadi terbawa ke dalam kondisi emosi yang tidak perlu. Misal, salah satu peserta kita adalah mantan guru / dosen kita dulu. Terkadang ini suka membuat kita menjadi tidak enak hati. Hal seperti ini yang dihindari karena jadi melibatkan emosidan kenangan pribadi dalam presentasi dan (c) Defuse. Kita berupaya untuk mencairkan suasana yang menegangkan menjadi sesuatu yang lebih ringan.

Jadi, seperti tagline di atas, apapun kejadian yang dialami selama proses nikmatilah karena itu adalah proses pembelajaran dan membuat kita sebagai trainer menjadi lebih baik dan lebih baik lagi.

Jakarta, 27 Mei 2018

#presentation #difficultpartcipants #trainer #competency

0 views

Morphosa

  • morphosa
  • LinkedIn Social Icon
  • c-facebook
  • Twitter Classic