Show More

3 "C" dalam Terapi Kognitif 

Prinsip dasar dari Terapi Kognitif dapat dikatakan sama untuk semua kalangan usia, namun ada beberapa hal yang perlu menjadi perhatian saat akan digunakan pada klien anak maupun remaja agar mereka memahami konsep bekerjanya terapi koginitf tersebut. Ada cara membantu klien pada usia tersebut untuk dapat melakukan identifikasi dan evaluasi cara berpikir mereka. The mnemonic of "The Three C's" (Catching, Checking, and Changing) akan sangat membantu mereka untuk belajar prosesnya.

Untuk anak-anak, terapis dapat mengajak klien bermain dan meminta mereka menjadi detektif. Detektif cilik ini diminta untuk menangkap pikiran (catch) yang berkaitan dengan emosi negatif secara spesifik yang menggangu mereka. Dengan membangun keterampilan yang telah diajarkan dalam sesi sebelumnya, anak-anak merefleksikan situasi saat mereka menjadi marah. Begitu mereka mengidentifikasi pikiran-pikiran otomatis tersebut, terapis meminta klien untuk menilai seberapa kuat mereka percaya pikiran tersebut, menyiratkan bahwa pikiran mungkin sepenuhnya benar atau benar-benar palsu. saat itulah klien belajar melihat dengan jelas hubungan antara emosi negatif berhubungan dengan pikiran.

 

Tahap berikutnya adalah melakukan pemeriksaan bukti-bukti (Checking). selain itu, klien diminta untuk melihat berbagai kemungkinan akibat dari pikiran tersebut, apa dampak positif maupun negatifnya.

Setelah berhasil menangkap dan memeriksa bukti-bukti, langkah terakhir adalah melakukan perubahan (Changing) pikiran yang telah ditangkap tadi. Terapis berperan penting membantu klien untuk dapat mengubah pikiran yang awalnya membuat tidak nyaman menjadi pikiran yang lebih rasional dan akhirnya nyaman dan tentunya gunakan bahasa mereka sendiri (ucapan yang terucap dari mulut anak/klien). Sehingga saat klien berhadapan dengan konidis yang membuat tidak nyaman tersebut, klien sudah memahami apa yang sebaiknya dilakukan.

 

Memaafkan Untuk Bahagia 

“Kesal rasanya melihat dia bersenang-senang seperti itu. Bahkan bukan kesal lagi, ingin marah saya rasanya. Enak sekali ya dia dapat melupakan apa yang dia pernah lakukan kepada saya dan seakan-akan tidak pernah ada kejadian apapun.”  Perasaan marah tersebut diceritakan salah seorang klien pada salah satu sesi terapi. Padahal rasanya sudah memaafkan. Tetapi kenapa perasaan marah dan benci tersebut tetap ada? Dimanakah letak permasalahannya? Kok tidak dapat benar-benar memaafkan? Apakah ada yang salah dengan kita? apakah kita tidak benar-benar memaafkan? Terlebih lagi, bila orang yang melakukan perbuatan menyakitkan tersebut adalah orang yang kita anggap sangat dekat dengan kita, seperti orangtua, kakak/adik, pacar, suami/istri atau teman baik (yang kita anggap baik).

Memaafkan juga merupakan satu bentuk  perilaku untuk mengurangi rasa sakit hati akibat perbuatan orang lain. Memaafkan pun dapat terjadi saat kita mengetahui bahwa kita punya hak untuk merasakan perasaan negatif terhadap  pelaku dan pelaku tidak punya hak untuk mendapatkan simpati dari kita. Hanya saja, setelah dapat memaafkan dan melalui seluruh prosesnya, maka perasaan sakit hati, dendam maupun marah dapat menghilang dan pada akhirnya kita dapat kembali tersenyum. Tersenyum karena perasaan lega dan lepas dari perasaan tidak menyenangkan tersebut.

Memaafkan merupakan sebuah proses, bukan hanya sekedar mengucapkan “Saya maafkan kamu.” Ucapan tersebut tidaklah cukup untuk dapat membuat kita memaafkan. Proses tersebut mulai dari menemukan penyebab dan seberapa marahnya kita terhadap orang itu, lalu apakah kita sudah memutuskan mau memaafkan atau belum, ada tindakan konkrit yang dilakukan untuk memaafkan dan juga melepas belenggu yang menyakitkan tersebut.

Lalu, bagaimana dapat memaafkan dengan benar sehingga saat melihat orang yang membuat kita terluka tidak lagi memunculkan perasaan marah? Sebenarnya pada saat kita memang sudah mau memaafkan, kita ada baiknya mengetahui empat tahapan dalam memaafkan. Enright & Fitzgibbons mengatakan keempat tahapan tersebut adalah uncovering, decision, working on forgiveness dan deepening. Pada tahapan uncovering, kita berupaya untuk mencari tahu lebih mendalam tentang perasaan marah tersebut. Salah satu pertanyaan yang dapat dilontarkan adalah bagaimana bila kita berhadapan dengan perasaan marah tersebut? Pada saat perasaan marah tersebut muncul, apa yang kita lakukan untuk menghadapi kondisi tersebut? Apakah kita akan menyangkal bahwa kita memang marah ataukah perasaan marah tersebut saya alihkan ke tempat lain karena bila marah hanya akan menambah dosa? Padahal, tidak ada yang salah dari marah. Kebiasaan kita adalah meredam marah dan mengalihkannya, padahal kalau memang marah, lebih baik kita rasakan benar bahwa kita marah dan mencari tahu apa penyebab marah itu terjadi. Apakah ingatan kita mendengar orang yang menyakiti kita berbicara, melihat ekspresi mukanya atau apa yang membuat kita benar-benar marah?

Setelah melalui tahap uncovering, maka selanjutnya kita dapat masuk ke tahapan kedua, yaitu decision. Pada tahap ini, kita akhirnya memutuskan bahwa apa yang telah kita lakukan untuk memaafkan ternyata kurang efektif dan bersedia untuk memaafkan yang tepat. Tahap ketiga adalah working on forgiveness adalah tahap kita belajar memahami bahwa memang demikian kenyataan yang terjadi, belajar berterima kasih terhadap orang tersebut karena dia memberikan pelajaran yang berharga pada diri kita dan pada tahap ini juga sesi terapi biasanya akan dilakukan (dapat menggunakan Cognitive Behavior Therapy, Rational Emotive Behavior Therapy, Solution Focused Behavior Therapy dan berbagai teknik terapi lainnya). Tahap terakhir adalah deepening. Pada tahap ini, kita belajar untuk menemukan makna dari penderitaan yang kita alami. Menyadari bahwa kita tidak sendirian di dunia ini yang mengalami kondisi menyakitkan tersebut, belajar menemukan tujuan hidup kita selanjutnya  dan akhirnya mendapatkan kebahagiaan dari memaafkan.

Selamat membaca, praktikan dan mendapatkan hidup yang lebih bahagia karena telah berhasil memaafkan

Morphosa

  • morphosa
  • LinkedIn Social Icon
  • c-facebook
  • Twitter Classic